Senin, 23 November 2015

Makna malam Nuzulul Quran?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Kita meyakini bahwa al-Quran turun ketika lailatul qadar. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya firman Allah di surat al-Qadar yang sering kita baca,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. al-Qadar: 1 – 3)
Sebelumnya diturunkan, al-Quran berada di Lauhul Mahfudz. Kemudian Allah turunkan melalui Jibril.
Kita juga meyakini bahwa al-Quran diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur. Sebagaimana realita sejarah yang kita baca. Disamping itu, ada ayat yang menegaskan,
وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنزلْنَاهُ تَنزيلًا
“Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. al-Isra: 106)
Selanjutnya, ulama berbeda pendapat tentang bagaimana cara Allah menurunkan al-Quran di malam qadar.
As-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi Ulum al-Quran menyebutkan ada 3 pendapat,
Pertama, al-Quran turun secara utuh keseluruhan ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Selanjutnya Allah turunkan secara berangsur-angsur selama masa kenabian.
Kata as-Suyuthi, ‘Ini adalah pendapat yang paling shahih dan paling terkenal’.
Kedua,  al-Quran turun setiap lailatul qadar selama masa kenabian. Kemudian turun berangsur-angsur kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama setahun itu.
Sebagai ilustrasi, (hanya permisalan untuk mendekati pemahaman)
Di malam qadar tahun 1 Hijriyah, Allah menurunkan 2 juz al-Quran. Selanjutnya, al-Quran sebanyak 2 juz itu, turun secara berangsur-angsur selama setahun. Hingga datang lailatul qadar di tahun 2 H. Lalu Allah turunkan lagi 3 Juz (misalnya) di malam qadar tahun 2 H. Selanjutnya turun  secara berangsur-angsur selama setahun, hingga datang lailatul qadar di tahun 3 H, dan demikian seterusnya.
As-Suyuthi menyebutkan, ini merupakan pendapat Fakhruddin ar-Rozi.
Ketiga, al-Quran pertama kali turun di lailatul qadar. Selanjuntnya al-Quran turun berangsur-angsur di waktu yang berbeda-beda. Ini merupakan pendapat as-Sya’bi.
Dan as-Suyuthi lebih cenderung menguatkan pendapat yang pertama. Beliau menyebutkan riwayat yang mendukung pendapat ini. Diantaranya,
Riwayat dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengatakan,
أنزل القرآن جملة إلى السماء الدنيا ليلة القدر، ثم نزل بعد ذلك في عشرين سنة
Al-Quran turun secara utuh ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Kemudian setelah itu, turun selama 20 tahun. (HR. Nasai dalam al-Kubro, 11372).
As-Suyuthi juga menyebutkan keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir yang menyebutkan riwayat bahwa ulama sepakat al-Quran diturunkan utuh ke Baitul Izzah di langit dunia. Ibnu Katsir mengatakan,
وحكى الإجماع على أن القرآن نزل جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العزة في السماء الدنيا
Disebutkan adanya ijma’ bahwa al-Quran turun secara utuh dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/502 dan al-Itqan, 1/118).
Allahu a’lam.

Al-Quran Sebagai Penyembuh?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Kita akan simak ayatnya,
Di surat Yunus, Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)
Indah sekali, Allah sebut al-Quran sebagai,
  1. Mau’idzah (nasehat) dari Rab kita
  2. Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati
  3. Huda (sumber petunjuk)
  4. Rahmat bagi orang yang beriman.
Ibnu Katsir mengatakan,
“وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ” أي: من الشُبَه والشكوك، وهو إزالة ما فيها من رجس ودَنَس
“Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).
Di ayat lain, Allah berfirman,
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ
Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. (QS. Fushilat: 44)
Makna dua ayat ini saling melengkapi. Keterangan global di suat Fushilat, didetailkan dengan keterangan di surat Yunus. Sehingga yang dimaksud al-Quran sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah obat bagi segala penyakit hati.
Kita simak keterangan Imam as-Sa’di,
Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat. Atau penyakit Syubuhat, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengkaji makna al-Quran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari ridha Allah dari pada nafsu syahwatnya.
Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas. Ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya dan mengotori aqidahnya. Sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati.
(Tafsir as-Sa’di, hlm. 366)

Hukum Berdoa Minta Pacar?

ismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Pacaran adalah ajang perzinaan. Ada banyak peluang zina di sana, sekalipun tidak melakukan hubungan badan. Karena zina itu bertingkat. Dari mulai zina anggota badan, zina perasaan, hingga zina sejatinya, yaitu zina kemaluan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ
“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari 6243 dan Ahmad 7935)
Karena itu, berdoa minta pacar, atau berdoa agar sukses dalam judi, atau dalam transaksi riba, termasuk doa untuk maksiat. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berdoa meminta sesuatu yang haram.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ
Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama dia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau memutus silaturrahmi, dan selama tidak terburu-buru. (HR. Muslim 7112 & Ibn Hibban 976)
Kita simak keterangan Ali Qori yang mengatakan,
ما لم يَدْعُ بِإِثْمٍ ـ مِثْلَ أَنْ يَقُولَ: اللَّهُمَّ قَدِّرْنِي عَلَى قَتْلِ فُلَانٍ وَهُوَ مُسْلِمٌ، أَوِ اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي الْخَمْرَ، أَوِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلَانٍ وَهُوَ مَاتَ كَافِرًا يَقِينًا، أَوِ اللَّهُمَّ خَلِّدْ فُلَانًا الْمُؤْمِنَ فِي النَّارِ وَأَمْثَالُ ذَلِكَ….
Sabda beliau, “Selama tidak berdoa meminta dosa”, seperti orang berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk membunuh si A” padahal si A ini muslim. Atau berdoa, “Ya Alah, berilah aku khamr” atau “Ya Allah ampunilah si B.” padahal si B mati kafir. Atau berdoa, “Ya Allah, kekalkanlah si A yang mukmin itu di neraka.” atau doa semacam itu. (Mir’atul Mafatih, 7/347).
Bagaimana Doa yang Benar?
Doa yang benar adalah memohon kepada Allah agar dimudahkan untuk menikah. Atau doa minta pasangan (suami atau istri) yang baik. Mengenai doa minta jodoh, bisa anda pelajari: Doa Cepat Jodoh
Allahu a’lam.

Kenapa Surat At-Taubah Tidak Diawali Basmalah?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ada dua versi penjelasan, mengapa di surat at-Taubah tidak diawali dengan bacaan basmalah.
Pertama, tidak adanya basmalah di awal surat at-Taubah adalah ijtihad sahabat terkait urutan al-Quran yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat menyimpulkan dari beliau, yang kemudian menjadi acuan penulisan dalam mushaf Utsmani.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menanyakan hal ini kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu,
مَا حَمَلَكُمْ أَنْ عَمَدْتُمْ إِلَى الأَنْفَالِ وَهِىَ مِنَ الْمَثَانِى وَإِلَى بَرَاءَةَ وَهِىَ مِنَ الْمِئِينَ فَقَرَنْتُمْ بَيْنَهُمَا وَلَمْ تَكْتُبُوا بَيْنَهُمَا سَطْرَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَوَضَعْتُمُوهُمَا فِى السَّبْعِ الطُّوَلِ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ
Apa yang menyebabkan anda memposisikan surat al-Anfal disambung dengan surat at-Taubah, sementara anda tidak menuliskan kalimat basmalah diantara keduanya. Dan anda letakkan di 7 deret surat yang panjang. Apa alasan anda?
Jawab Utsman,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِمَّا يَأْتِى عَلَيْهِ الزَّمَانُ وَهُوَ تَنْزِلُ عَلَيْهِ السُّوَرُ ذَوَاتُ الْعَدَدِ فَكَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الشَّىْءُ دَعَا بَعْضَ مَنْ كَانَ يَكْتُبُ فَيَقُولُ ضَعُوا هَؤُلاَءِ الآيَاتِ فِى السُّورَةِ الَّتِى يُذْكَرُ فِيهَا كَذَا وَكَذَا وَإِذَا نَزَلَتْ عَلَيْهِ الآيَةُ فَيَقُولُ ضَعُوا هَذِهِ الآيَةَ فِى السُّورَةِ الَّتِى يُذْكَرُ فِيهَا كَذَا وَكَذَا
Selama masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan wahyu, turun surat-surat yang ayatnya banyak. Ketika turun kepada beliau sebagian ayat, maka beliau akan memanggil sahabat pencatat al-Quran, lalu beliau perintahkan, “Letakkan ayat-ayat ini di surat ini.” Ketika turun ayat lain lagi, beliau perintahkan, “Letakkan ayat ini di surat ini.”
Utsman melanjutkan,
وَكَانَتِ الأَنْفَالُ مِنْ أَوَائِلِ مَا أُنْزِلَتْ بِالْمَدِينَةِ وَكَانَتْ بَرَاءَةُ مِنْ آخِرِ الْقُرْآنِ وَكَانَتْ قِصَّتُهَا شَبِيهَةً بِقِصَّتِهَا فَظَنَنْتُ أَنَّهَا مِنْهَا فَقُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلَمْ يُبَيِّنْ لَنَا أَنَّهَا مِنْهَا
Sementara surat al-Anfal termasuk surat yang pertama turun di Madinah. Sedangkan surat at-Taubah, turun di akhir masa. Padahal isi at-Taubah mirip dengan surat al-Anfal. Sehingga kami (para sahabat) menduga bahwa surat at-Taubah adalah bagian dari surat al-Anfal. Hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau tidak menjelaskan kepada kami, bahwa at-Taubah itu bagian dari al-Anfal.
Lalu Utsman menegaskan,
فَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ قَرَنْتُ بَيْنَهُمَا وَلَمْ أَكْتُبْ بَيْنَهُمَا سَطْرَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَوَضَعْتُهَا فِى السَّبْعِ الطُّوَلِ
Karena alasan ini, saya urutkan al-Taubah setelah al-Anfal, dan tidak kami beri pemisah dengan tulisan bismillahirrahmanirrahim, dan aku posisikan di tujuh surat yang panjang. (HR. Ahmad 407, Turmudzi 3366, Abu Daud 786, dan dihasankan at-Turmudzi dan ad-Dzahabi)
Alasan sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ini, seolah menjelaskan latar belakang, mengapa di awal surat at-Taubah tidak tertulis basmalah. Yang sejatinya, ini merupakan hasil pemahaman sahabat terhadap al-Quran yang mereka dapatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua, tidak adanya basamalah di awal at-Taubah, karena beda konten basmalah dengan at-Taubah.
Basmalah menggambarkan keamanan, dan kasih sayang Allah, sementara at-Taubah mennyebutkan tentang permusuhan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada orang musyrikin dan orang munafik.
Ibnu Abbas pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,
لِـمَ لَمْ تَكْتُبْ فِي بَرَاءَة بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم ؟
Mengapa anda tidak menulis bismillahirrahmanirrahim di awal surat at-Taubah?
Jawab Ali bin Abi Thalib,
لِأَنَّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم أَمَانٌ ، وَبَرَاءَة نَزَلَت بِالسَّيْفِ ، لَيْسَ فِيهَا أَمَانٌ
Karena bismillahirrahmanirrahim isinya damai, sementara surat at-Taubah turun dengan membawa syariat perang, di sana tidak ada damai. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak 3273)
Penjelasan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah penjelasan mengenai hikmah tidak adanya basamalah di surat at-Taubah. Beliau menilik makna dari basmalah dan makna dari surat at-Taubah. Basmalah, kalimat yang berisi rahmat Allah, memberikan kedamaian, keamanan. Sementara surat at-Taubah merupakan pengumuman bagi orang musyrikin, bahwa Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memusuhi mereka dan menantang perang mereka.
Allahu a’lam.

Kenapa Kisah Musa Disebutkan Sangat Banyak Di Al-Quran?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Musa ‘alaihis salam adalah nabi paling mulia di kalangan Bani Israil. Beliau bergelar kalimullah – orang yang diajak bicara langsung oleh Allah di dunia –. Dan beliau termasuk salah satu nabi ulul azmi. Dalam al-Quran, perjalanan beliau paling banyak disebutkan  oleh Allah, setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian yang menghitung, nama beliau disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Quran.
Kisah Musa Allah sebutkan secara terperinci ada di 4 surat: al-Baqarah, al-A’raf, Thaha, dan al-Qashas. Umat beliau, Bani Israil, adalah umat yang paling afdhal di zamannya. Allah berfirman,
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. al-Baqarah: 47)
Dan perlu dipahami, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari mereka. Karena Allah sebut umat Muhammad sebagai khoiru ummah. Allah berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110).
Agar Direnungkan
Ketika kisah Musa banyak disebutkan dalam al-Quran, menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar kita banyak merenungkan perjalanan hidupnya. Mengambil pelajaran tentang bagaimana ujian berat yang dialami Musa. Dari mulai menghadapi Firaun, hingga menghadapi Bani Israil yang keras kepala.
Allah sebut Musa dalam al-Quran, sebagai Nabi yang mendapatkan banyak ujian,
وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا
“Aku akan mengujimu dengan berbagai macam ujian.” (QS. Thaha: 40)
Ujian yang dialami Musa adalah ujian menjalani hidup di tengah masyarakat. Bukan ujian kemiskinan, ujian sakit, atau musibah bencana alam. Yang ujian ini, sangat mirip dengan apa yang akan dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin yang menjadi umatnya.
Said bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, apa yang dimaksud futun (banyak ujian).
Lalu Ibnu Abbas membaca ayat-ayat yang menceritakan Musa dari awal. Beliau sebutkan kisah Firaun, upaya pembantaian yang dia lakukan terhadap bayi lelaki, kemudian kisah Musa dilempar di sungai dan ditemu oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah Musa menarik jenggotnya firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara. Termasuk kisah dia membunuh orang mesir, lalu dia lari ke Madyan dan menikah dengan salah satu putri orang tua di Madyan. Kemudian Musa kembali ke Mesir, dan beliau salah jalan di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Allah.
Kata Ibnu Zubair,
وكان عند تمام كل واحدة منها يقول هذا من الفتون يا ابن جبير
Setelah Ibnu Abbas menyebutkan semuanya,  dia mengatakan, “Inilah fitnah-fitnah itu wahai Ibnu Jubair.” (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).
Allahu a’lam.

Al-Ikhlas Bernilai 1/3 Al-Quran?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Keterangan bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga al-Quran bersumber dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
Di suatu malam, ada seorang sahabat yang mendengar temannya membaca surat al-Ikhlas dan diulang-ulang. Pagi harinya, sahabat ini melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan nada sedikit meremehkan amalnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga al-Quran.” (HR. Bukhari 5013 dan Ahmad 11612).
Dalam hadis lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat,
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Sanggupkah kalian membaca sepertiga al-Quran dalam semalam?”
Mereka bertanya, ‘Bagaimana caranya kita membaca 1/3 al-Quran?’
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,
(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Qul huwallahu ahad senilai sepertiga al-Quran.” (HR. Muslim 1922).

Makna al-Ikhlas 1/3 al-Quran

Dalam al-Quran, ada 3 pembahasan pokok:
[1] Hukum, seperti ayat perintah, larangan, halal, haram, dst.
[2] Janji dan ancaman, seperti ayat yang mengupas tentang surga, neraka, balasan, termasuk kisah orang soleh dan kebahagiaan yang mereka dapatkan dan kisah orang jahat, berikut kesengsaraan yang mereka dapatkan.
[3] Berita tentang Allah, yaitu semua penjelasan mengenai nama dan sifat Allah.
Karena surat al-Ikhlas murni membahas masalah tauhid, bercerita tentang siapakah Allah Ta’ala, maka kandungan makna surat ini menyapu sepertiga bagian dari al-Quran.
Kita simak keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar,
قوله ثلث القرآن حمله بعض العلماء على ظاهره فقال هي ثلث باعتبار معاني القرآن لأنه أحكام وأخبار وتوحيد وقد اشتملت هي على القسم الثالث فكانت ثلثا بهذا الاعتبار
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Senilai sepertiga al-Quran” dipahami sebagian ulama sesuai makna dzahirnya. Mereka menyatakan, bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga dilihat dari kandungan makna al-Quran. Karena isi Quran adalah hukum, berita, dan tauhid. Sementara surat al-Ikhlas mencakup pembahasan tauhid, sehingga dinilai sepertiga berdasarkan tinjauan ini.  (Fathul Bari, 9/61)
Penjelasan kedua,
Bahwa isi quran secara umum bisa kita bagi menjadi 2:
[1] Kalimat Insya’ (non-berita): berisi perintah, larangan, halal-haram, janji dan ancaman, dst.
[2] Kalimat khabar (berita): dan berita dalam al-Quran ada 2:
[a] Berita tentang makhluk: kisah orang masa silam, baik orang soleh maupun orang jahat.
[b] Berita tentang khaliq: penjelasan tentang siapakah Allah, berikut semua nama dan sifat-Nya.
Mengingat surat al-Ikhlas hanya berisi berita tentang Allah, maka surat ini menyapu sepertiga makna al-Quran.
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
ولذلك عادلت ثلث القرآن لأن القرآن خبر وإنشاء والإنشاء أمر ونهي وإباحة والخبر خبر عن الخالق وخبر عن خلقه فأخلصت سورة الإخلاص الخبر عن الله
Surat al-Ikhlas senilai 1/3 al-Quran, karena isi al-Quran ada 2: khabar dan Insya’. Untuk Insya’ mencakup perintah, larangan, dan perkaran mubah. Sementara khabar, di sana ada khabar tentang kkhaliq dan khabar tentang ciptaan-Nya. Dan surat al-Ikhlas hanya murni membahas khabar tentang Allah. (Fathul Bari, 9/61)

Pahalanya Senilai Membaca 1/3 al-Quran

Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya memberikan pahala ibadah kepada hamba-Nya dengan nilai yang beraneka ragam. Ada ibadah yang diberi nilai besar dan ada yang dinilai kecil. Sesuai dengan hikmah Allah. sehingga, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang usianya relatif pendek, bisa mendapatkan pahala besar tanpa harus melakukan amal yang sangat banyak.
Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi oleh Allah lailatul qadar, yang nilainya lebih baik dari pada 1000 bulan. Ada juga masjidil haram, siapa yang shalat di sana dinilai 100.000 kali shalat. Kemudian surat al-Ikhlas, siapa membacanya sekali, dinilai mendapatkan pahala membaca 1/3 al-Quran.
Dan Allah Maha Kaya untuk memberikan balasan apapun kepada hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki.

Senilai dalam Pahala BUKAN Senilai dalam Amal

Kami ingatkan agar kita membedakan antara al-Jaza’ dengan al-ijza’.
Al-jaza’ (الجزاء) artinya senilai dalam pahala yang dijanjikan
Al-Ijza’ (الإجزاء) artinya senilai dalam amal yang digantikan.
Membaca surat al-Ikhlas mendapat nilai seperti membaca 1/3 al-Quran maknanya adalah senilai dalam pahala (al-Jaza’). Bukan senilai dalam amal (al-Ijza’).
Sehingga, misalnya ada orang yang bernadzar untuk membaca satu al-Quran, maka dia tidak boleh hanya membaca surat al-Ikhlas 3 kali, karena keyakinan senilai dengan satu al-Quran. Semacam ini tidak boleh. Karena dia belum dianggap membaca seluruh al-Quran, meskipun dia mendapat pahala membaca satu al-Quran.
Sebagaimana ketika ada orang yang shalat 2 rakaat shalat wajib di masjidil haram. Bukan berarti setelah itu dia boleh tidak shalat selama 50 puluh tahun karena sudah memiliki pahala 100.000 kali shalat wajib.
Benar dia mendapatkan pahala senilai 100.000 kali shalat, tapi dia belum disebut telah melaksanakan shalat wajib selama puluhan tahun itu.
Berbeda dengan amal yang memenuhi al-Ijza’, seperti jumatan, yang dia menggantikan shalat dzuhur. Sehingga orang yang shalat jumatan tidak perlu shalat dzuhur. Atau orang yang tayammum karena udzur, dia tidak perlu untuk wudhu, karena tayammum senilai dengan amalan wudhu bagi orang yang punya udzur.
Syaikhul Islam mengatakan,
فالقرآن يحتاج الناس إلى ما فيه من الأمر والنهي والقصص ، وإن كان التوحيد أعظم من ذلك، وإذا احتاج الإنسان إلى معرفة ما أُمر به وما نهي عنه من الأفعال أو احتاج إلى ما يؤمر به ويعتبر به من القصص والوعد والوعيد : لم يسدَّ غيرُه مسدَّه ، فلا يسدُّ التوحيدُ مسدَّ هذا ، ولا تسدُّ القصص مسدَّ الأمر والنهي ولا الأمر والنهي مسدَّ القصص ، بل كل ما أنزل الله ينتفع به الناس ويحتاجون إليه
Al-Quran, dibutuhkan manusia keterangan mengenai perintah, larangan, dan semua kisahyang ada, meskipun tauhid menjadi kajian paling penting dari semua itu. Ketika seseorang butuh untuk mengetahui perintah dan larangan dalam masalah perbuatan, dan butuh  untuk merenungi setiap kisah, janji dan ancaman, maka kajian lainnya tidak bisa menutupi  kebutuhan dia pada itu semua. Kajian tauhid tidak bisa menggantikan kajian perintah dan larangan, demikian pula masalah kisah, tidak bisa menggantika perintah dan larangan atau sebaliknya. Namun semua yang Allah turunkan bermanfaat bagi manusia dan dibutuhkan mereka semua.
Lalu beliau mengatakan,
فإذا قرأ الإنسان { قل هو الله أحد } : حصل له ثوابٌ بقدر ثواب ثلث القرآن لكن لا يجب أن يكون الثواب من جنس الثواب الحاصل ببقية القرآن ، بل قد يحتاج إلى جنس الثواب الحاصل بالأمر والنهي والقصص ، فلا تسد { قل هو الله أحد } مسد ذلك ولا تقوم مقامه
Jika seseorang membaca surat al-Ikhlas, dia mendapat pahala senilai pahala sepertiga al-Quran. Namun bukan berarti pahala yang dia dapatkan sepadan dengan bentuk pahala untuk ayat-ayat Quran yang lainnya. Bahkan bisa jadi dia butuh bentuk pahala dari memahami perintah, larangan, dan kisah al-Quran. Sehingga surat al-Ikhlas tidak bisa menggantikan semua itu. (Majmu’ al-Fatawa, 17/138).
Allahu a’lam.

Apa Itu Al-Quran Surat Al-Muqasyqisyah?

Kata al-Muqasyqisyah turunan dari kata qasy-qa-sya [قَشْقَشَ] yang artinya daging direbus mendidih, hingga luntur berbagai kotorannya. Turunannya lagi, kata taqasy-qa-sya, yang artinya sembuh dari sakit. Melihat dari asal katanya, kata al-Muqasyqisyah memiliki akar makna: lepas dan bebas.
Dari makna ini, ulama menggunakan istilah al-Muqasyqisyah untuk menyebut surat yang isinya berlepas diri dari setiap kekufuran dan kemunafikan.
Surat al-Muqasyqisyah ada 4
Ulama menggunakan istilah al-Muqasyqisyah untuk menyebut 5 surat: at-Taubah, al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas.
Al-Jauhari menukil keterangan dari al-Ashma’i,
قال الأصمعيّ: وكان يقال لِ “قُلْ يا أيُّها الكافرونَ” و “قلْ هو الله أحدٌ”: المُقَشْقِشَتانِ، أي أنَّهما تُبْرِئانِ من النفاق
Al-Ashma’i mengatakan, dulu surat al-kafirun dan surat al-Ikhlas disebut sebagai dua al-Muqasyqisyah. Artinya, kedua surat ini membebaskan dari sifat kemunafikan. (as-Shihah fi al-Lughah, 2/78).
Dalam Tafsir Ibnu Asyura dinyatakan,
روي عن ابن عمر عن ابن عباس : كنا ندعو سورة براءة المقشقشة
Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, “Kami dulu mennyebut surat at-Taubah dengan nama al-Muqasyqisyah.” (at-Tahrir wa at-Tanwir, 10/5).
Ibnu Asyura juga mengatakan, ketika menafsirkan surat al-Falaq,
اسم المقشقشة مشتركا بين أربع سور: هذه، وسورة الناس، وسورة براءة، وسورة الكافرون
Nama al-Muqasyqisyah digunakan untuk menyebut 4 surat: surat al-Falaq, surat an-Nas, surat at-Taubah, dan surat al-Kafirun. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 30/546).
Oleh karena itu, surat al-Muqasyqisyah hakekatnya bukan surat baru. Bukan pula surat yang hilang. Tapi istilah untuk menyebut surat-surat yang ada dalam al-Quran, yang kandungan maknanya berlepas diri dari setiap kekufuran dan kemunafikan.
Baca Surat al-Kafirun Sebelum Tidur
Surat al-Kafirun, lambang permusuhan antara islam dengan orang kafir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk membacanya sebelum tidur, sebagai ikrar bahwa kita bermusuhan dengan orang kafir.
Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ajarkanlah kepadaku amalan yang aku kerjakan ketika hendak tidur.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,
اقْرَأْ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ
“Baca surat al-Kafirun, lalu tidur setelah selesai membacanya. Karena surat ini adalah lambang permusuhan dari kesyirikan.” (HR. Ahmad 28458, Abu Daud 5057, Turmudzi 3731, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Allahu a’lam